Rabu, 26 November 2014

Penilaian Autentik dalam Kurikulum 2013

 
Penilaian Autentik dalam Kurikulum 2013

Hakikat Penilaian Autentik

Salah satu tugas utama guru adalah melakukan penilaian. Penilaian yang dituntut dalam Kurikulum 2013 adalah penilaian autentik.  Penilaian Autentik adalah bentuk penilaian yang menghendaki peserta didik menampilkan sikap, menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari pembelajaran dalam melakukan tugas pada situasi yang sesungguhnya. Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilaksanakan dalam bentuk penilaian autentik dan non-autentik. Bentuk penilaian autentik mencakup penilaian berdasarkan pengamatan, tugas ke lapangan, portofolio, proyek, produk, jurnal, kerja laboratorium dan unjuk kerja, serta penilaian diri. Bentuk penilaian non-autentik mencakup tes, ulangan, dan ujian. Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dilaksanakan untuk memenuhi fungsi formatif dan sumatif dalam penilaian. Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik berfungsi untuk memantau kemajuan belajar, memantau hasil belajar, dan mendeteksi kebutuhan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

Tujuan Penilaian Hasil Belajar
Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik  bertujuan untuk:
  1. mengetahui tingkat penguasaan kompetensi;
  2. menetapkan ketuntasan penguasaan kompetensi;
  3. menetapkan program perbaikan atau pengayaan berdasarkan      tingkat penguasaan kompetensi; dan
  4. memperbaiki proses pembelajaran.

Prinsip-Prinsip Penilaian
Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik diterapkan berdasarkan prinsip umum dan prinsip khusus. Prinsip umum berlaku untuk semua bentuk penilaian. Prinsip khusus berlaku untuk masing-masing bentuk penilaian, mengacu kepada karakteristik pendekatan, model, dan instrumen yang digunakan.
Prinsip umum penilaian adalah: Sahih, Objektif, Adil, Terpadu, Terbuka, Holistik dan Berkesinambungan, Sistematik, Akuntabel, dan Edukatif.

Prinsip Khusus Penilaian Autentik
  1. Materi penilaian dikembangkan dari kurikulum.
  2. Bersifat lintas muatan atau mata pelajaran.
  3. Berkaitan dengan kemampuan peserta didik.
  4. Berbasis kinerja peserta didik.
  5. Memotivasi belajar peserta didik.
  6. Menekankan pada kegiatan dan pengalaman belajar peserta didik.
  7. Memberi kebebasan peserta didik untuk mengkonstruksi responnya.
  8. Menekankan keterpaduan sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  9. Mengembangkan kemampuan berpikir divergen.
  10. Menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran.
  11. Menghendaki balikan yang segera dan terus menerus.
  12. Menekankan konteks yang mencerminkan dunia nyata.
  13. Terkait dengan dunia kerja.
  14. Menggunakan data yang diperoleh langsung dari dunia nyata.
  15.  Menggunakan berbagai cara dan instrumen
Akhirnya dapatlah dikatakan bahwa penilaian autentik pada dasarnya adalah penilaian proses. Hal itu dikarenakan penilaian autentik terjadi pada saat adanya proses pembelajaran riil. Penilaian proses dapat dilaksanakan untuk menilai sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Pertanyaan selanjutnya adalah seperti apa wujud instrumen dan cara penilaiannya. Mudah-mudahan ditulisan mendatang akan bisa saya postingkan. Salam Pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar